KOTA SERANG - Penanganan banjir di kawasan Perumahan Bumi Agung Permai (BAP) 1, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang, mulai memasuki babak baru. Setelah puluhan tahun menjadi kawasan langganan banjir, pembangunan drainase pengendalian banjir kini tengah dikebut pemerintah.
Wali Kota Serang Budi Rustandi meninjau langsung pembangunan drainase tersebut, Senin (31/8/2026). Ia memastikan proyek yang bersumber dari anggaran APBD Provinsi Banten itu berjalan dengan baik dan menjadi salah satu langkah strategis dalam mengatasi persoalan banjir yang selama ini menghantui masyarakat.
“Karena ini penting. Hari ini kita datang di lingkungan BAP, Bumi Agung Permai,” kata Budi saat meninjau lokasi.
Menurut Budi, pembangunan drainase tersebut merupakan bagian dari usulan Pemerintah Kota Serang kepada Pemerintah Provinsi Banten untuk memperkuat penanganan banjir. Ia menyebut persoalan banjir di kawasan tersebut bukan masalah baru, bahkan telah berlangsung selama sekitar 20 tahun.
“Untuk penanganan banjir, informasi dari Pak RW bahwa puluhan tahun ini tidak pernah selesai. Dua puluh tahun tidak pernah selesai. Alhamdulillah hari ini bisa terbangun,” ujarnya.
Meski demikian, Budi menegaskan pekerjaan tersebut belum menjadi akhir dari upaya penanganan banjir. Masih terdapat sejumlah titik lain yang membutuhkan intervensi, sehingga pemerintah akan kembali melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Banten.
“PR berikutnya adalah di sebelah sana. Insyaallah saya akan komunikasi lagi dengan Pak Gubernur dan tadi sedikit melalui telepon kepada Kadis PUPR Banten,” jelasnya.
Budi mengungkapkan, dukungan Pemerintah Provinsi Banten menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem pengendalian banjir di Kota Serang. Total nilai pekerjaan mencapai lebih dari Rp9 miliar dan tersebar di tiga lokasi.
“Ini ada pembangunan senilai Rp9 miliar lebih di mana ini ada di tiga lokasi,” ungkapnya.
Ia juga meminta proses pembangunan diawasi secara bersama-sama agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan perencanaan dan kebutuhan teknis di lapangan.
Menurut Budi, titik-titik pembangunan telah ditentukan berdasarkan kajian teknis terkait penanganan banjir. Karena itu, pembangunan tidak hanya berorientasi pada pengerjaan fisik, tetapi harus benar-benar mampu memperbaiki sistem aliran air dari hulu hingga hilir.
“Ini dalam rangka untuk sama-sama mengawasi bahwa pembangunan ini sesuai dengan arahan dan instruksi Pak Gubernur Andra Soni. Titiknya nanti secara teknis sesuai dengan kebutuhan penanganan banjir, sesuai dengan kajian dari PUPR,” katanya.
Budi berharap dukungan anggaran dari Pemprov Banten dapat terus berlanjut sehingga persoalan banjir di berbagai wilayah Kota Serang dapat ditangani secara menyeluruh.
Ia mencontohkan pembangunan di Kali Banteng yang juga mulai berjalan. Menurutnya, penanganan banjir harus dilakukan secara terintegrasi, tidak berhenti pada satu titik saja.
“Dari hulu sampai hilirnya harus siap,” tegasnya.
Sementara itu, Tim Leader Pengawasan, Rianto, menjelaskan proyek tersebut merupakan pembangunan drainase pengendalian banjir kota dengan spesifikasi saluran yang cukup besar.
Untuk titik BAP 1, saluran memiliki lebar bagian atas sekitar 4 meter, lebar bagian bawah sekitar 3 meter, dengan kedalaman kurang lebih 2 meter. Panjang pekerjaan di titik tersebut sekitar 530 meter.
“Kalau yang untuk titik Bumi Agung ini sekitar 4,6. Jaraknya itu 530 meter dengan diameter sekitar 4 meter. Atas 4 meter, bawah 3 meter, kedalaman sekitar 2 meter,” jelas Rianto.
Ia menyebut paket pekerjaan tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp9.116.816.290.
Selain BAP 1, pekerjaan juga mencakup sejumlah titik lain, termasuk long storage serta crossing di kawasan Kepandean dan Suzuki. Dimensi saluran di beberapa titik akan diperbesar untuk meningkatkan kapasitas aliran air.
“Di sini long storage, terus di crossing Kepandean, Suzuki. Nah, itu akan diganti dimensinya, diperlebar dimensinya. Mungkin nanti kita akan masuk ke Muara Warung Jaud,” ujarnya.
Untuk waktu pelaksanaan, pekerjaan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar lima bulan atau hingga Desember 2026.
Namun, pengawasan akan mendorong percepatan pekerjaan. Kontraktor diminta menambah peralatan, regu kerja, serta memastikan ketersediaan material agar pembangunan dapat berjalan optimal.
“Insyaallah, kita lagi coba melakukan optimalisasi dengan kontraktor. Peralatan harus ditambah, regu kerja juga harus sudah ditambah, material harus selalu ada. Nanti kita akan coba buat time schedule supaya dipercepat,” kata Rianto.
Menambahkan hal tersebut, Ketua RW 12 BAP 1, Agus Yoyo Prasetyo, mengatakan kawasan tersebut telah menjadi langganan banjir selama kurang lebih dua dekade.
“Memang selama 20 tahun ini di BAP 1, khususnya di RW 12, langganan banjir. Alhamdulillah baru wali kota sekarang yang gercep,” ungkap Agus.
Menurutnya, setelah Wali Kota Serang melakukan kunjungan sekitar enam bulan lalu, penanganan di lokasi mulai direalisasikan.
“Dengan kunjungan Pak Wali Kota baru enam bulan yang lalu, kita dikerjakan dan sedang dibereskan,” katanya.
Dari empat RW dan 29 RT yang berada di kawasan BAP 1, Agus menyebut titik paling parah berada di RT 03 RW 12. Saat musim hujan, ketinggian air bahkan bisa mencapai dada orang dewasa.
“Di RT 03 itu tiap tahun hampir sedada. Jadi di BAP 1 itu ada empat RW dan 29 RT, tapi yang paling parah di RT 03 RW 12,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Anggota DPRD Provinsi Banten Juheni M. Rois yang disebutnya turut memberikan dukungan terhadap upaya penanganan banjir di kawasan tersebut.
Namun, Agus menyadari bahwa keberadaan drainase berukuran besar juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihannya. Warga, kata dia, selama ini rutin melakukan kerja bakti untuk menjaga lingkungan dan saluran air.
“Memang masyarakat kita selalu kita kerja bakti. Tiga bulan sekali kerja bakti dan kerja sama. Mudah-mudahan semua lancar,” tuturnya.
Dengan dimulainya pembangunan drainase tersebut, Agus optimistis persoalan banjir yang selama ini menjadi momok warga BAP 1 dapat segera berakhir.
Ia bahkan memasang target sekaligus harapan besar bagi warganya.
“Kita juga bersyukur kepada seluruh warga atas doanya. BAP 1 tahun ini didengar. Saya berjanji, saya sebagai Ketua RW 12 mewakili warga, 2026 bebas banjir di BAP 1,” pungkasnya.
Perlu disampaikan Bagi warga BAP 1, pembangunan drainase tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur. Pembangunan ini menjadi jawaban atas persoalan banjir yang selama bertahun-tahun mengganggu aktivitas dan kehidupan masyarakat.
Pembangunan drainase ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai proyek fisik semata. Dengan dukungan pemerintah, pengawasan yang ketat, percepatan pekerjaan, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga saluran, sistem pengendalian banjir di BAP 1 diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kawasan yang selama 20 tahun harus berhadapan dengan persoalan banjir.
Penulis: Admin.
Keyword:
Share:
Tag
Categories
More News
PEMERINTAH KOTA SERANG