CARI TAHU INFORMASI SEPUTAR MASYARAKAT, KUNJUNGI FK-KIM KOTA SERANG

17 Jul 2026 WIB
Berita Pemerintah

KOTA SERANG – Setiap batu, keramik, hingga meriam yang tersimpan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama bukan sekadar benda peninggalan masa lalu. Di baliknya tersimpan kisah kejayaan sebuah peradaban yang pernah menjadikan Banten sebagai pusat perdagangan dan hubungan internasional di kawasan Asia. Berangkat dari semangat itulah, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII melalui Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terus menggaungkan tagline "Kunjungi, Lindungi, dan Lestarikan" sebagai ajakan kepada masyarakat untuk mengenal sekaligus menjaga warisan sejarah bangsa.

 

Tagline tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga sebuah gerakan edukasi yang bertujuan membangun kesadaran publik, khususnya di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas, bahwa pelestarian cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama.

 

Dalam kegiatan edukasi tersebut, Analis Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman BPK Wilayah VIII, Siti Rohani, yang akrab disapa Hani, mengajak para pengunjung menyusuri jejak sejarah Kesultanan Banten melalui berbagai koleksi bersejarah yang tersimpan di museum.

 

Satu per satu koleksi dijelaskan secara mendalam, mulai dari Meriam Ki Amuk yang menjadi simbol kekuatan militer Kesultanan Banten, Watu Gilang yang dipercaya sebagai batu penobatan para Sultan Banten, hingga pecahan batu karang berelief yang memiliki nilai arkeologis tinggi. Menurut sejumlah kajian sejarah, Watu Gilang juga diduga merupakan peninggalan masa Hindu yang dipindahkan dari pusat Kerajaan Pajajaran setelah penaklukan pada tahun 1579.

 

Tak hanya itu, Hani juga mengupas beragam koleksi keramik kuno yang berasal dari Tiongkok (Dinasti Sung, Yuan, Ming, dan Qing), Jepang, Vietnam (Annam), Thailand, Timur Tengah, hingga Eropa abad ke-17 sampai ke-19, serta gerabah produksi masyarakat lokal. Seluruh koleksi tersebut menjadi bukti nyata bahwa sejak berabad-abad lalu Banten telah menjadi simpul perdagangan dunia yang mempertemukan berbagai bangsa dan kebudayaan.

 

"Setiap benda memiliki perjalanan sejarah yang luar biasa. Nilai yang terkandung di dalamnya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga menjadi sumber ilmu pengetahuan, identitas budaya, dan pembelajaran bagi generasi sekarang maupun yang akan datang," ujar Hani.

 

Ia juga menjelaskan sejarah Keraton Surosowan, pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang pernah berdiri megah sebagai simbol kejayaan politik dan ekonomi Nusantara. Runtuhnya keraton tidak hanya dipaparkan dari sisi kronologis, tetapi juga dianalisis melalui berbagai faktor sejarah, baik secara politik, sosial, maupun hubungan internasional pada masa itu.

 

Meski telah lebih dari satu dekade menjadi edukator di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, Hani mengaku masih prihatin terhadap rendahnya perhatian masyarakat terhadap pelestarian sejarah. Ia menilai masih banyak bangunan cagar budaya yang menjadi sasaran vandalisme dan kurang mendapatkan kepedulian.

 

"Padahal sejarah Banten menjadi salah satu rujukan penting bagi para peneliti dalam bidang sejarah, budaya, arsitektur, hingga kajian toleransi dan keberagaman. Warisan ini seharusnya kita rawat bersama," katanya.

 

Menutup sesi edukasi, Hani mengajak generasi muda untuk tidak berhenti mempelajari sejarah. Menurutnya, sejarah merupakan fondasi lahirnya ilmu pengetahuan, kebudayaan, nilai sosial, hingga karakter bangsa.

 

"Mari kita jaga warisan sejarah Banten Lama melalui berbagai cara, baik dengan membuat konten edukatif, vlog, video dokumenter, maupun kegiatan literasi lainnya agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pelestarian cagar budaya," pesannya.

 

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Salah satunya datang dari Seyni Lolian Septianty, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Ia tertarik dengan banyaknya koleksi museum yang berasal dari berbagai negara.

 

Menurutnya, keberadaan benda-benda tersebut menjadi bukti kuat bahwa Banten pernah memiliki hubungan perdagangan dan diplomasi yang luas dengan berbagai kawasan dunia.

 

"Ini yang paling menarik. Banyak koleksi berasal dari berbagai negara. Hal itu menunjukkan bahwa Banten pernah menjadi pusat hubungan internasional dan perdagangan dunia," ujarnya.

 

Sementara itu, KKM 7 Kelurahan Sulaksana, Kec. Curug, Saepul Umar juga menanyakan makna historis dan filosofis koleksi porselen Tiongkok bermotif perempuan yang dikenal sebagai Lady in the Pavilion, salah satu artefak yang berasal dari masa Dinasti Ming maupun Qing. Baginya, setiap motif yang tergambar pada benda-benda tersebut memiliki pesan budaya yang menarik untuk dikaji lebih dalam.

 

Kemudian, Entu Amalia, mahasiswa KKM 62 Kelurahan Lopang Gede, menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar langsung di museum. Menurutnya, seluruh penjelasan yang disampaikan didasarkan pada bukti sejarah, penelitian ilmiah, serta kajian akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

"Pengalaman ini memperkuat pemahaman kami bahwa Banten memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Semua didukung oleh data ilmiah dan kajian akademik sehingga menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda," ungkapnya.

 

Ia berharap kegiatan observasi lapangan seperti ini dapat terus dilakukan agar semakin banyak mahasiswa dan masyarakat yang mengenal sejarah peradaban Islam di Banten sekaligus terdorong untuk ikut menjaga keberlangsungannya.

 

Pelestarian sejarah tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau para arkeolog, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Setiap kunjungan ke museum bukan sekadar wisata edukasi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang peradaban yang telah membentuk identitas Banten hari ini.

 

Karena itu, semangat "Kunjungi, Lindungi, dan Lestarikan" bukan sekadar ajakan, melainkan panggilan bagi seluruh generasi untuk memastikan bahwa jejak kejayaan Banten tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada masa depan.

penulis: admin.

Keyword:

Share: