KOTA SERANG — Erupsi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), masyarakat Kota Serang diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah perlindungan diri untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang, dr. Ahmad Hasanuddin, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung partikel dengan ukuran kasar hingga sangat halus. Partikel tersebut juga dapat membawa material vulkanik yang bersifat iritatif sehingga berpotensi mengganggu kesehatan apabila terhirup, mengenai mata, maupun bersentuhan langsung dengan kulit.
“Abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi dan tidak menganggap remeh paparan abu vulkanik,” ujar dr. Hasan sapaan akrabnya.
Menurutnya, paparan abu vulkanik dapat memicu gangguan saluran pernapasan, iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas. Pada kelompok tertentu, paparan tersebut juga dapat memperburuk kondisi penyakit yang sudah ada, termasuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bronkitis kronis, maupun penyakit jantung.
Tak hanya saluran pernapasan, abu vulkanik juga berpotensi mengganggu kesehatan mata. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menimbulkan rasa perih, kemerahan, gatal, dan mata berair akibat gesekan partikel tersebut pada permukaan mata.
Sementara pada kulit, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi, kemerahan, dan rasa gatal, serta berpotensi memperburuk penyakit kulit yang sebelumnya sudah dialami.
Oleh karena itu, Dinkes Kota Serang meminta masyarakat tidak hanya waspada, tetapi juga aktif melakukan perlindungan diri dan lingkungan tempat tinggal.
Langkah pertama yang dianjurkan adalah tetap berada di dalam rumah apabila kondisi di luar ruangan dipenuhi abu vulkanik. Pintu, jendela, dan seluruh ventilasi udara perlu ditutup rapat untuk meminimalkan masuknya abu ke dalam ruangan.
“Saya mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela rapat-rapat sehingga tidak memberikan celah masuknya abu vulkanik ke dalam ruangan,” kata dr. Hasan.
Masyarakat juga diminta memastikan filter pendingin udara dalam kondisi bersih. Selain itu, penampung air bersih, sumur, serta wadah makanan dan minuman harus ditutup agar tidak terkontaminasi abu.
Bahan makanan yang akan dikonsumsi juga perlu dicuci menggunakan air mengalir. Masyarakat pun dianjurkan memastikan ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan di rumah, terutama bagi anggota keluarga yang memiliki penyakit tertentu dan rutin mengonsumsi obat.
Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan, lanjut dr. Hasan adalah cara membersihkan abu vulkanik yang sudah masuk atau menempel di lingkungan rumah.
Ia mengingatkan masyarakat untuk membasahi abu secukupnya dengan air terlebih dahulu sebelum membersihkannya. Cara tersebut bertujuan mengurangi kemungkinan partikel abu beterbangan dan kembali terhirup.
Masyarakat juga diminta menghindari menyapu abu dalam kondisi kering, meniup abu menggunakan udara bertekanan tinggi, maupun menggunakan alat yang dapat membuat abu kembali tersuspensi ke udara.
Dengan demikian, upaya membersihkan lingkungan tidak justru meningkatkan paparan abu vulkanik terhadap penghuni rumah.
Dalam kondisi tertentu ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan, Dinkes mengingatkan agar perlindungan diri menjadi prioritas.
Masyarakat dianjurkan menggunakan masker, kacamata pelindung, pakaian berlengan panjang, celana panjang, serta alas kaki tertutup.
Perlindungan tersebut, lanjut dia penting untuk mengurangi paparan langsung abu vulkanik terhadap saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Apabila abu vulkanik mengenai mata, masyarakat diingatkan tidak mengucek mata. Mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air mengalir untuk membantu mengeluarkan partikel abu.
“Apabila harus berada di luar ruangan, pastikan langkah-langkah antisipasi tersebut dilakukan. Hindari mengucek mata apabila terkena abu vulkanik dan segera bilas dengan air mengalir,” tegas dr. Hasan.
Pemkot Serang melalui Dinkes berharap masyarakat dapat menjadikan imbauan tersebut sebagai langkah bersama untuk menjaga kesehatan selama kondisi erupsi dan sebaran abu vulkanik berlangsung.
Kewaspadaan tidak hanya dilakukan dengan membatasi aktivitas di luar rumah, tetapi juga melalui pengelolaan lingkungan yang tepat, perlindungan diri, menjaga kebersihan air dan makanan, serta memastikan kebutuhan obat-obatan tetap tersedia.
“Mari bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan kesehatan agar risiko akibat paparan abu vulkanik dapat diminimalkan,” pungkasnya.
Dengan kewaspadaan dan tindakan yang tepat, masyarakat diharapkan tetap dapat menjaga kesehatan keluarga sekaligus membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman di tengah kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau.
Penulis: Admin.
Keyword:
Share:
Tag
Categories
More News
PEMERINTAH KOTA SERANG